Kita Butuh Pemimpin Bengis untuk Hadapi Disruptive Change

Disruptive Change, alias perubahan yang mengganggu, sering dihadapi oleh perusahaan yang sudah mapan. Butuh cara tersendiri menghadapinya.

disruptive change

sumber: www.speedofcreativity(dot)org

Jika dulu di era sebelum internet merajalela, perubahan yang terjadi kebanyakan adalah planned change atau paling banter adalah predictable change. Maka gara-gara internet ini, perubahan yang terjadi menjadi tidak terprediksi, lebih cepat, dan memiliki  daya rusak yang lebih besar terhadap tatanan nyaman yang dihadapi pelaku pasar.

Celakanya, incumbent ini seringkali terlambat untuk merespons perubahan yang terjadi, sehingga ketika mereka melakukan reaksi balasan, terkadang reaksi tersebut terlambat, dan kerusakan besar kadung terjadi. Perubahan bukannya tidak disadari oleh incumbent, namun mereka khawatir jika mereka melakukan inovasi yang radikal atas produknya, akan merusak produk yang saat ini menjadi sawah ladang mereka. Padahal mereka juga sadar bahwa sawah tersebut saat ini sedang digerogoti oleh change yang terjadi di luar.

Blackberry dan Nokia menjadi contoh sahih atas lambatnya merespons sinyal-sinyal kejayaan android ketika itu. Bagaimana cara menghadapinya?

Sebenarnya, incumbent bisa tetap merajai pasar, karena mereka memiliki modal besar, yaitu penguasaan pasar. Syaratnya adalah mau memperhatikan seksama atas perubahan model bisnis yang sedang terjadi dan berani mengambil risiko besar untuk merespons perubahan tersebut.

Kuncinya adalah menyadari adanya batas waktu yang pendek dan bertindak segera.

Perusahaan yang tidak menyadari adanya batas waktu itu ibarat fenomena katak rebus. Secara perlahan perusahaan sadar bahwa dalam tekanan, namun meremehkannya dengan tetap berbisnis as usual, dan tiba-tiba ancaman itu hadir di depan mata.

Dalam bisnis, penurunan adalah hal biasa, dan memang usaha bisa mengalami siklus naik dan turun. Initerkadang menjadi jebakan betmen bagi pemain lama. Jika tidak memperhatikan situasi yang berkembang di luar, maka penurunan kinerja akan dianggap sebagai hal biasa, terkait siklus tersebut. Namun dalam penurunan itu, selalu ada data yang bisa dilihat dan dianalisis, baik dari sisi internal, maupun dari sisi eksternal. Dalam era digital sekarang ini, penting untuk mampu menyaring big data, dan mengolahnya menjadi insight yang terkait dengan keberlangsungan usaha. Kemampuan ini akan menuntun kita untuk menciptakan peluang-peluang baru yang bisa dikembangkan untuk usaha.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, perusahaan ada baiknya membentuk atau memberi perhatian khusus pada tim yang bertugas mencari pasar-pasar baru atau menggali keahlian spesifik yang dimiliki organisasi.  Karena jika bergantung dengan tim operasional, mereka tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk menganalisis secara mendalam atas kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya.

Untuk bisa menganalisis kondisi tersebut, mari kita ambil nafas dalam-dalam, cari tempat yang tenang, dan redakan gejolak untuk sementara waktu. Kita kembali ke dasar-dasar industri, dan memahami bagaimana profit itu bisa dicetak.

Kurva S

Kita mengenal istilah yang sangat populer, yaitu kurva S. Sederhananya, bisnis selalu mengikuti gerakan seperti huruf S. Bisnis yang baik akan merugi sejenak karena masuk fase investasi, selanjutnya keuntungan akan menanjak, kemudian melandai, dan pada saat tertentu akan mencapai titik puncaknya. Akhirnya bisnis perlahan akan mulai menurun, dan terus menurun sampai bisnis tersebut masuk ke sunset industry.

Yang diajarkan adalah, manajemen harus mengenali tanda-tanda di titik mana perusahaan mulai memasuki fase naik tapi mulai melandai. Pada titik tersebut, sebaiknya perusahaan mulai memikirkan ceruk bisnis/ strategi baru, untuk membuat kurva S berikutnya. Mencari ceruk bisnis baru ketika masa jaya sangat menyenangkan, karena pemasukan sedang besar-besarnya sehingga leluasa dalam melakukan eksperimen.

Keterlambatan mencari bisnis baru akan membuat perusahaan sulit bergerak, karena kas sudah tidak sederas masa jaya. Apalagi kalau baru bergerak ketika bisnis sudah menurun. Alamat perusahaan akan berdarah-darah.

Itu adalah ketika situasi dalam keadaan normal. Namun era dot com, terjadi perubahan drastis. Kurva S tetap berlaku, namun tidak linier lagi. Jadi pencarian kurva-kurva S berikutnya tidak bisa menunggu kondisi melandai. Tapi harus secara terus menerus dilakukan. Ibaratnya adalah terus menggali sumur meskipun sumur-sumur yang lama masih berproduksi bagus. Kalau di dunia artis, ibaratnya Raffi Ahmad. Meskipun masih jaya, dia terus menggali sumur-sumur baru, dan tidak peduli disebut aji mumpung. Menurut saya, itu bukan aji mumpung. Justru terlihat bahwa Raffi memahami bahwa siklus hidup di dunia entertainment relatif pendek, sehingga berbagai lini harus dijajaki.

Atau Raditya Dika. Tidak puas sebagai penulis buku, dia menjadi bintang film, terus menjadi komika, produser film, dan banyak hal lain lagi.

Sekali lagi mereka bukan rakus, namun sedang memanfaatkan momentum. Mengkreasi kurva-kurva S berikutnya, ketika bisnis utama sedang jaya.

Kalau hanya berpedoman pada kurva S linier, maka ibaratnya adalah artis-artis idealis yang maunya hanya berjalan di satu jalur. Ketika jalur itu mampet, maka dia akan tenggelam dan terkubur. Di sini tidak dibicarakan tentang idealisme seni, namun lebih untuk menggambarkan perlunya diferensiasi pasar.

Menurut Chris Bradley, ketika pemain lama ini menyadari pentingnya kecepatan merespons perubahan, mereka akan lebih fokus dalam mengalokasikan sumberdayanya, baik dari sisi finansial, kapabilitas, ataupun talenta terbaik yang dimilikinya. Untuk itu, elemen organisasi perlu secara terus menerus menaikkan isu disruptive change ini, agar korporasi secara bersama-sama sadar dan menghadapinya bersama-sama.

Sayangnya, kebanyakan pemain lama masih memiliki cara pandang yang sangat bertentangan dengan perubahan yang terjadi. Perencanaan jangka panjang sepenuhnya didasarkan pada sejarah masa lalu yang sebenarnya adalah lagging indicator. Metode peramalan yang sepenuhnya bergantung pada lagging indicator memiliki peluang salah yang lebih besar karena situasi bisnis yang dihadapi di masa datang jauh-jauh berbeda dengan yang dihadapi ketika kinerja masa lalu tersebut dicetak.

Leader yang Kuat dan Berani Mengambil Risiko

Ketika perubahan sering kali terjadi, dan ini pasti akan terjadi, pegawai selalu berada di ketidakpastian. Situasi chaos kemungkinan akan dihadapi oleh organisasi yang lingkungan bisnisnya ditimpa disruptive change ini. di sinilah pentingnya memiliki leader yang kuat.

Jika dikaitkan dengan psikologi massa, ketika situasi tidak menentu, massa membutuhkan arahan yang jelas dan cepat. Jika tidak ada figur resmi yang mengambil posisi sebagai strong leader, maka akan muncul informal leader yang sering tidak sejalan dengan visi organisasi. Jika itu terjadi, maka situasi dijamin akan semakin tidak menentu dan semakin kusut.

Maka, leader yang kuat dengan semangat memajukan organisasi harus muncul untuk menakhodai kapal mengarungi lautan perubahan yang cepat ini. Tak jarang, mereka akan tampak seperti manusia bengis yang tidak kompromi pada beberapa orang, yang tidak bisa mengikuti cepatnya perubahan. Namun sesungguhnya, tindakan tersebut akan menyelamatkan jauh lebih banyak orang yang terkait dengan kapal tersebut.

Jika dengan ‘kebengisan’ tersebut, kapal yang dinakhodainya bisa selamat, maka ratusan orang yang bergantung, pegawai dan keluarganya, suplier dan keluarganya, pelanggan dan keluarganya, akan ikut terselamatkan. Menurut saya, hal itu lebih bernilai dibandingkan berkompromi dengan sebagian kecil orang yang memperlambat kapal, ataupun malah melubangi kapal, yang pada akhirnya semuanya akan ikut tenggelam.

 

Langganan dan Download Ebook tentang Motivasi dan Human Capital-- GRATIS

3 thoughts on “Kita Butuh Pemimpin Bengis untuk Hadapi Disruptive Change

    1. humancap Post author

      kita perlu membentuk diri kita agar bisa adaptif ya Pak. Tidak perlu menjadi yang terkuat. Terima kasih sudah berkunjung.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *