Virtual Reality: Teman-Teman, Jangan Musuhi Teknologi Ya…

Sumber foto: www.pivotphysicaltherapy(.)com

Sumber foto: www.pivotphysicaltherapy(.)com

Menemukan artikel menarik dari situsnya McKinsey dan saya bagi di sini dengan adaptasinya. Artikel ini menyorot kegagapan banyak organisasi ketika menghadapi perkembangan teknologi yang jauh lebih cepat. Menahan teknologi atau nengakrabinya? Simak sajiannya.

Teknologi tak terbendung lagi. Pilihannya hanya 2: memanfaatkannya atau musnah olehnya. Jika pilih yang pertama, teknologi bisa membantu para profesional HR untuk meningkatkan kualitas onboarding dan induksi pegawai baru, aktivitas yang menyenangkan pegawai, dan peningkatan keamanan. Bagaimana caranya?

Banyak istilah baru di internet, misalnya virtual reality, internet of things. Sederhananya, internet of things adalah internet yang menempel di barang-barang keseharian kita. Kalau dulu kita menonton tokoh-tokoh kartun berbicara melalui jam tangan, tidak sampai 20 tahun ternyata imajinasi itu sudah  terwujud.

Kulkas sekarang jauh lebih pintar karena ada teknologi. Lampu Rumah bisa dikendalikan dengan . Harganya pun sudah kompetitif. Itulah internet of things. Nah, dengan adanya kecanggihan di keseharian kita, apakah perangkat tersebut bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja HR?

Jawabannya simpel.

Tinggal kita mau atau tidak mengadopsi, mengeksplorasi, dan memanfaatkannya. Yang lebih penting lagi, membanfkitkan kemauan beradaptadi dan belajar dengan hal-hal baru.

Oke, mari kita eksplorasi bagaimana kita bisa meningkatkan pemanfaatan Wearable Technology di tempat kerja.

Pertama, Aktivitas dalam Program Induksi dan Onboarding Pegawai Baru

Virtual reality menjadi booming saat ini gara-gara pokemon. Intinya, program ini menggabungkan antara imajinasi virtual dalam internet ke dalam kenyataan di keseharian kita. Nah, sebenarnya ini juga bisa diterapkan dalam proses pengenalan pegawai baru.

Bayangkan ketika kandidat bergabung ke perusahaan kita, ketika mengenalkan perusahaan, HR memberikan perlengkapan Virtual Reality. Mereka bisa melihat seluruh hal terkait perusahaan melalui perangkat tersebut. Dalam perangkat tersebut bisa dikenalkan bagaimana perusahaan beroperasi, bagian apa saja yang ada di setiap lantai dan apa saja pekerjaannya, apa keahlian mereka dan sebagainya. Bayangkan bagaimana excitednya pegawai baru tersebut disuguhi metode mengenal perusahaan dengan cara kekinian. Pasti akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Apalagi jika dibanding dengan presentasi di kelas dengan powerpoint. Kalau bisa diterapkan, tiba-tiba saja Powerpoint bisa menjadi produk prasejarah.

Perusahaan bisa bereksperimen dengan Virtual Reality dan ini akan memberi pengalaman mencengangkan bagi pegawai baru dan akan memberi ikatan batin lebih kuat kepada mereka. Ingat, sekarang dan masa-masa mendatang akan semakin banyak generasi milenial yang bergabung, dan mereka adalah native internet.

 

Kedua,Aktivitas yang Menyenangkan Pegawai

 

Banyak aplikasi yang mampu melayani aktivitas keseharian. Dengan aplikasi-aplikasi tersebut, kita spesifik memiliki sekretaris sendiri. Misalnya pengingat rapat, menghitung jumlah langkah, pencatat durasi olaraga, makan atau minum. Jadi kita patut berterima kasih pada perkembangan teknologi yang eksponensial.

Seluruh aplikasi itu terkait dengan gaya hidup sehat. Maka, jika HR mengoptimalkan teknologi tersebut sehingga seluruh pegawai untuk menggunakan gadget mereka untuk mengenal gaya hidup sehat.

Bayangkan jika dengan gadget tersebut HR bisa memberikan laporan rutin setiap minggu atau setiap bulan mengenai kesehatan pegawai dan mereka bisa mengukur tingkat stress. Pegawai bisa menelusuri kebiasaan makan sehingga mereka tidak melintas batas bahaya.

Bayangkan jika pegawai mendapatkan notifikasi yang mengingatkan pegawai untuk segera check up karena pola makannya menunjukkan gejala tidak bagus. Apalagi smart watch sekarang sudah bisa memonitor denyut jantung . Jika dihubungkan dengan report kantor, maka aplikasi kantor bisa menelusuri rekam jejak jantung pegawai, dan juga menunjukkan gejala berbahaya bisa segera memberi peribgatan baik ke pegawai atau keluarganya. Siapa tahu itu bisa menyelamatkan nyawa pegawai kita karena adanya deteksi dini.

 

Keamanan

Wearable Technology bisa membantu perusahaan dalam memberikan tambahan jaring keamanan pada pegawai wanita. Misalnya dengan tracker pintar akan membantu HRD dalam mengawasi keamanan pegawai wanita yang sedang travelling atau menjalani shift malam. Dengan adanya pengawasan dari kantor, pegawai wanita akan lebih percaya diri ketika menjalani tugas luar atau ikut shift malam yang membutuhkan keliling lapangan.

Nah, jika perusahaan memfasilitasi pegawainya dengan wearable technology, maka tingkat pengamanan akan meningkat. Tentu kita berpikir itu kan berarti meningkatnya biaya pegawai.

Tapi coba kita pikir sebaliknya, bagaimana jika kita tidak memfasilitasi itu? Kita harus hitung in efisiensi akibat penambahan biaya keamanan, utilisasi pegawai wanita yang berkurang.

Nah, ide-ide tersebut bisa benjadi alternatif bahwa berteman dengan gadget bisa memberi nilai tambah, ketimbang memusuhinya. Banuak hal yang harus dipelajari dan terpenting mengkondisikan pegawai untul beradaptasi. Jika bisa, teknologi akan menjadi pendoromg meningkatnya kemampuan adapfasi perusahaan menghadapi perubahan lingkungan.

Langganan dan Download Ebook tentang Motivasi dan Human Capital-- GRATIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *