Innovation Lab: Metode Pengumpulan Ide Tidak Terstruktur yang Powerful

Jerman adalah gudangnya ide. Mereka berani melakukan eksperimen untuk menguji metode pengumpulan ide yang mereka pikirkan. Dalam Innovation Lab, sejumlah orang yang tidak saling kenal, dari berbagai ras, negara, latar belakang, berkumpul tanpa brief apapun. Hasilnya, intensi yang sama akan membawa orang-orang tersebut menemukan masalah bersama, dan mencari berbagai ide untuk memecahkannya.

innovation lab

Menginjak tanah Bavaria tanggal 1 November 2012, tengah hari. Mengantisipasi hari berikutnya akan padat dengan jadwal training, kami pun memutuskan untuk menghabiskan sore untuk menelusuri beberapa tempat di Bonn. Benar, ternyata dua hari berikutnya kami tak punya cukup waktu untuk menikmati kota ini. Innovation Lab menyita waktu dan fisik kami. Seperti apa Innovation Lab itu?

 

Innovation Labs mengumpulkan sekitar 30 orang dari berbagai negara. Mereka adalah alumni beberapa jenis training yang diselenggarakan oleh GIZ seperti Climate Leadership Programme (CLP), Diplomacy Development Programme (DDP), Education Sustainability Development (ESD) dan sebagian undangan lepas dari berbagai organisasi/ universitas di beberapa negara kolega GIZ. Seluruh peserta datang dibawa ke sebuah gedung bernama Fabrik 45. Nampaknya gedung ini biasa dipakai untuk ruang pamer seni instalasi.

Tak ada satupun dari peserta yang tahu mau apa di tempat ini, karena tidak ada rundown acara yang jelas selayaknya training-training yang biasanya. Semua membawa rasa penasaran itu ke dalam sesi pembuka. Melalui speed dating alias perkenalan singkat ke beberapa peserta, selanjutnya masing-masing peserta menuliskan apa yang terpikir atau ingin dishare dalam forum dan kemudian mengkusternya. Maka terbentuklah kelompok-kelompok kecil untuk menggenerate ide dan apa yang terpikir saat itu, terkait proses-proses yang pernah dijalani sebelumnya. Ide-ide dituangkan dalam kertas-kertas meta-plan dan ditempel pada sebuah kertas lebar.

Tak ada panduan apapun untuk melakukan proses itu. Setiap kelompok memiliki cara sendiri-sendiri untuk mengorganisasi anggota kelompoknya. Namun hasilnya sama, berbagai ide bahasan tertuang di sana dengan range yang sangat luas. Ide-ide tersebut selanjutnya dicluster sesuai dengan kemiripan pokok bahasan. Terbentuk sekitar 6 – 7 tema, dan kami pun kembali membagi diri ke dalam kelompok-kelompok tema tersebut sesuai dengan minat masing-masing untuk mendiskusikannya.

Maka, ada kelompok yang anggotanya melimpah, ada pula kelompok yang miskin anggota. Tak ada pemimpin definitif dalam kelompok yang terbentuk, namun ternyata secara alamiah setiap anggota kelompok berinisiatif untuk mengambil peran masing-masing. Ada yang langsung mengambil peran sebagai pengatur jalannya diskusi, ada yang langsung menjadi resource person alias mendominasi jalannya diskusi, dan ada pula yang mengambil peran sebagai pendengar, seperti saya 🙂 .

Ternyata inilah Innovation Lab. Sebuah training yang menyatakan diri sebagai kursus dengan struktur yang tidak terstruktur. Seluruh agenda diserahkan kepada peserta, tentu dengan fasilitasi yang smart, dan hasilnya pun tergantung dari para peserta itu sendiri.

Innovation Lab merupakan ruang terbuka untuk berbagi informasi, bertukar wawasan antar peserta yang memiliki latar belakang yang sangat beragam, baik kultur, usia, tingkat pendidikan, negara, gender, pekerjaan, dan lain-lain untuk membahas tema yang mereka pilih sendiri.

Untunglah, sebagian besar diantara kami berangkat dengan “Open Mind’ dan ‘Open Heart’. Seluruh peserta larut dalam arus rasa penasaran seperti apa jalannya Innovation Lab ini dan hasil yang diperoleh. Ternyata kunci keberhasilan sebuah proses pembelajaran adalah ‘Passion’. Keinginan untuk terlibat penuh dalam seluruh proses, tanpa ada agenda tersembunyi lain yang menyertai proses diskusi.

Saya membayangkan jika kursus ini dilaksanakan dengan peserta-peserta yang ‘terpaksa’ ikut kursus. Bisa karena hanya untuk memenuhi target jumlah pelatihan, bisa karena lokasinya menarik, bisa karena hanya ingin escape from the bronx atau alasan lain yang tak terkait dengan training.

Tak menyangkal, kami pun memiliki motivasi-motivasi tersembunyi seperti itu, namun passion untuk terlibat dalam proses tersebut lebih besar. Maka, target pelatihan, kunjungan ke tempat-tempat menarik, dan lari dari aktivitas rutin menjadi bonus bagi kami. Proses yang kami lakukan dalam setiap sesi yang ditandai dengan pergantian waktu diwarnai dengan diskusi-diskusi intensif dalam kelas kecil, dan tak jarang di beberapa kelompok seperti kekurangan waktu untuk membahas tema tersebut. Seluruh peserta mau tidak mau harus mengungkapkan pendapat dan gagasannya, kalau tidak mau dianggap hanya numpang duduk.

Kata ‘terpaksa’ saya gunakan untuk mewakili orang-orang yang berangkat ke sebuah kursus dengan motif tersembunyi yang lebih besar, dan tidak segera mengubah mindsetnya saat masuk dalam kursus. Akibatnya, motif tersembunyi itulah yang lebih mendominasi. Maka, bisa dibayangkan bagaimana jalannya unstructured structured course ini. Mereka akan tersiksa selama proses itu berjalan.

Jadi, sebagaimana gambar di atas, anak-anak kecil itu tidak diberi brief. Mereka hanya dimasukkan ke kolam pasir dan ada beberapa alat tersedia. Ajaibnya, jika intensi mereka sama, maka di akhir kegiatan, akan terbangun istana pasir yang indah, yang sebelumnya tidak terbayang sedikitpun seperti apa. Seperti itulah, jika setiap orang dalam kelompok memiliki intensi yang sama, maka masalah apapun memiliki peluang untuk diselesaikan dengan baik.

Langganan dan Download Ebook tentang Motivasi dan Human Capital-- GRATIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *