3 Kunci untuk Gagal Total (+Saran Mengubah Jadi Kunci Sukses)

rio_kunci suksesSangat menyenangkan mendengar kisah-kisah sukses seseorang. Jika ukurannya adalah finansial, banyak diantaranya masih berusia sangat muda sudah menjadi miliuner, padahal dia berangkat dari nol. Merry Riana misalnya, sebelum menggenggam jutaan dolar, dia sempat terlunta-lunta di kampusnya. Jika ukurannya adalah keahlian, Rio Haryanto sudah menjejakkan kakinya di puncak tertinggi kasta balap mobil, padahal usianya belum sampai 25 tahun. Mereka adalah orang-orang yang sudah menggenggam kunci sukses.

Di sisi lain, kita yang mungkin sudah berusia 30an, 40an, 50an, atau 60an tahun bahkan, masih merasa segitu-segitu saja, padahal ibaratnya sudah melakukan berbagai hal mencoba berbagai cara.

Jangan-jangan, ada yang salah dengan cara berpikir kita, sehingga tindakan kita pun ikut salah. Mari kita bedah satu persatu, semoga kita bisa lebih waspada dan mengatasi cara pikir yang salah tersebut.


Pertama, Mudah Menyerah

Hambatan ini adalah hambatan yang sangat gampang kita temukan di banyak orang. Pada dasarnya kita paham bahwa dalam hidup pasti ada tantangan. Kalau dalam Islam, sudah digariskan bahwa setiap kesulitan pasti diikuti dengan kemudahan. Ini mengindikasikan bahwa Allah sendiri sudah menyiapkan ujian-ujian untuk manusia. Setelah melewati ujian, maka akan diikuti dengan kebahagiaan.

Yang perlu ditanamkan di mindset kita adalah bahwa sesuatu akan terasa nikmat kalau diperjuangkan. Jadi ketika menghadapi masalah, kita tidak lari, karena otak kita sadar bahwa setelah melewati masalah tersebut, ada kenikmatan yang akan kita terima.

Misalnya kita adalah seorang pemasar. Tentu sebelum mendapatkan customer yang loyal, yang mau membeli produk kita secara kontinyu, ada banyak tantangan yang harus dihadapi. Misalnya ketika berkenalan dengan relasi, tidak setiap orang yang dihadapi adalah orang-orang yang menyenangkan. Kadang dicueki, waktu datang ditutup pintunya, atau didengar tapi keluar dari telinga kiri dan keluar telinga kanan.

Namun, kesuksesan adalah milik orang yang tidak mudah menyerah. Seringkali dari 100 orang yang ditemui, hanya 20 orang yang memberi respons positif, dan 20% di antaranya adalah orang-orang yang menjadi pintu utama rezeki kita.

Cerita yang pernah saya ulas di http://strategimanajemen.net adalah bagaimana CEO GE Indonesia, Handry Satriago, bangkit dari keterpurukannya akibat penyakit yang membuatnya lumpuh.

Maka, tips untuk mengalahkan kunci gagal yang pertama adalah resiliensi. Tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan-kegagalan. Teman kita ketika menghadapi masalah adalah ‘waktu’. Ya, waktu. Jika kita tekun menantang masalah tersebut, maka dengan seiring berjalan waktu, masalah itu akan menyerah. Pada dasarnya, masalah tidak memiliki daya tahan yang baik. Ada waktunya ketika masalah itu menyerah, dan memberikan kebahagiaan yang sebelumnya ia sembunyikan, kepada kita.

Kedua, Tidak Fokus

Ini adalah teman dari kunci gagal pertama. Seseorang yang mudah menyerah, akan terjebak juga di kunci kedua ini.

Seseorang gagal bukan karena dia tidak mampu atau tidak berpotensi. Ia hanya tidak fokus ketika menjalankan apa yang ada di depannya. Jebakan terbesarnya adalah klaim bahwa kita mampu melakukan multitasking. Faktanya, sangat jarang orang yang bisa benar-benar sukses ber-multitasking.

Ketika mode multitasking diterapkan, maka konsentrasi kita terhadap tugas yang dihadapi akan berkurang. Yang terpikir adalah menyelesaikan pekerjaan itu. Hanya menyelesaikan pekerjaan. Bukan menyelesaikan pekerjaan sebaik-baiknya. Antara Menyelesaikan pekerjaan, dan menyelesaikan sebaik-baiknya terdapat jarak yang sangat jauh, dan jeda itu bisa jadi menentukan kesuksesan kita.

Menyelesaikan pekerjaan, berarti otak kita diset untuk menyelesaikan dengan cara-cara yang rutin, untuk beberapa pekerjaan yang dihadapi. Hasilnya pun akan rutin.

Ketika ditambahkan term ‘sebaik-baiknya’, maka otak kita diset untuk lebih fokus dan mencari berbagai cara untuk memberikan hasil yang terbaik. Saat ada tantangan besar menghadang, yang dilakukan adalah mencari banyak alternatif untuk berkelit dan mengalahkannya. Fokus hanya bisa dilakukan jika kita konsisten.

Kalau kita kembalikan ke arti kata, KBBI menjelaskan fokus sebagai titik atau daerah kecil tempat berkas cahaya mengumpul atau menyebar setelah berkas cahaya itu menimpa sebuah cermin atau lensa, berkas cahaya yang datang berada dalam keadaan paralel dengan sumbu cermin atau lensa itu. Jadi jelas, hanya pada 1 titik dan konsentrasi padanya.

Kita tentu ingat ketika masa kecil dulu bermain dengan kaca pembesar di bawah terik matahari. Kertas akan semakin cepat terbakar kalau kita mengerahkan usaha kita untuk membuat titik panas yang sekecil-kecilnya.

Demikian pula dengan  kehidupan ini. Sering kita gagal menyelesaikan sesuatu karena kita gagal memfokuskan perhatian kita pada masalah yang dihadapi.

Fokus, di masa mendatang akan menjadi tantangan yang sangat besar, terutama bagi generasi milenial. Gara-gara gadget, mereka menjadi menurun kualitas fokus dan kesabarannya. Game mengajarkan bahwa kalau kalah, bisa diulangi lagi. Akibatnya, mereka menganggap remeh kehilangan perhatian pada apa yang sedang dihadapi. Toh, nanti bisa diulang lagi. Ketidaksabaran juga dilatih oleh gadget, misalnya untuk menanam gandum sampai panen hanya butuh waktu semenit. Padahal di dunia nyata, butuh berbulan-bulan dan usaha berdarah-darah untuk bisa panen.

Maka, tips untuk mengalahkan kunci gagal kedua ini adalah melatih sabar dan single tasking untuk kasus-kasus tertentu yang membutuhkan pemikiran strategis. Multitasking hanya diterapkan untuk pekerjaan-pekerjaan rutin yang memang kita sudah terbiasa mengerjakan dan mengukur tingkat keberhasilannya.

Kombinasi antara resiliensi, kesabaran, dan single tasking akan menghasilkan kepakaran. Semakin lama kita menekuni satu subjek, maka kita akan semakin ahli dalam subjek tersebut. Hukum kekekalan energi dalam fisika menyebut bahwa energi tidak dapat dimusmahkan, namun bisa berubah menjadi bentuk lain. Hukum inipun berlaku di kehidupan. Energi yang kita curahkan pada satu subjek tidaklah hilang atau musnah begitu saja. Ia hanya berganti bentuk, disimpan, dan pada saatnya nanti energi yang sudah terkumpul tersebut akan berubah bentuk lagi menjadi sebuah kesuksesan.

Ketiga, Kurang Komitmen dan Kemauan

Save the best for last. Kunci yang ketiga ini kunci yang paling paripurna agar kita menjadi gagal total. Apapun modal yang kita miliki, jika kita memiliki kunci ketiga ini, maka kegagalan akan sembilan puluh sembilan persen menjadi milik kita. Masih ada satu persen keberuntungan yang bisa membuat kita tetap berhasil.

Saya menyebut ‘kurang komitmen dan kemauan’ sebagai kunci gagal paripurna karena dua bersaudara tersebut sangat mudah menggagalkan perencanaan matang, potensi besar, dan kompetensi yang memadai.

Ilustrasinya seperti ini. Kita membentuk tim terdiri dari 4 orang yang masing-masing memiliki keahlian tersendiri. Mereka saling bergantung dengan keahlian unik yang dimilikinya. 3 orang mencurahkan seluruh usahanya untuk berhasil, namun yang satu orang ogah-ogahan. Maka upaya maksimal 3 orang itu akan sia-sia karena satu orang yang kurang kemauan tersebut akan menggagalkan semuanya.

Kurang komitmen memiliki persaudaraan yang erat dengan kunci pertama. Bedanya, komitmen lebih pada kemampuan menjaga keterikatan untuk menyelesaikan sesuatu. Pada pencandu rokok misalnya, mereka pada awalnya memiliki niatan untuk berhenti merokok, menyusun rencana secara matang, dan mulai menjalankan komitmennya untuk menjauhi segala hal yang terkait dengan rokok.

Semua berjalan lancar pada awalnya, sampai suatu saat ia diajak berkemah. Ia secara intens bergaul dengan teman-temannya yang merokok, dan tidak ada aktivitas lain yang bisa mengalihkan keinginan untuk bergabung menikmati rokok. Jika ia memiliki komitmen, ia akan selamat. Namun jika komitmennya kurang, ia akan tergoda untuk mencoba, dan percobaan pertama akan mengantar pada percobaan-percobaan berikutnya. Hasilnya bisa ditebak. Rencananya untuk meninggalkan rokok gagal total.

Jadi tips untuk menghancurkan kunci ketiga ini seratus persen berasal dari diri kita. Kita bisa menerapkan metode stick and carrot secara internal, terhadap komitmen yang sudah kita buat. Kita bisa mengukur sendiri seberapa besar tantangan yang dihadapi untuk menjaga komitmen tersebut. Setiap kali kita berhasil menghadapinya, kita memberi reward terhadap diri kita, sesuai ukuran keberhasilan. Misalnya keberhasilan menghadapi tantangan kecil kita berikan hadiah bagi diri kita untuk makan di tempat yang kita suka. Semakin besar tantangannya, semakin besar pula reward yang dita berikan, misalnya jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan.

Komitmen sifatnya “Ya” atau “Tidak”. Tidak ada gradasi untuk kegagalan. Jadi punishmentnya sama, dan buat yang sangat menyakitkan buat kita. Misalnya kita tetapkan jika kita gagal menjalankan komitmen tersebut, maka kita akan kehilangan hal yang sangat menyenangkan yang kita nikmati sebelumnya. Misalnya, kalau biasanya kita ke kantor menggunakan kendaraan pribadi, maka kegagalan menjaga komitmen ini kita tetapkan di awal bahwa hukumannya adalah harus menggunakan kendaraan umum ke mana pun selama setahun penuh. Ini akan menjadi dorongan yang sangat kuat untuk menjaga komitmen tersebut.

Dalam kasus perokok tadi, dia akan berhitung lebih panjang antara kenikmatan sesaat menikmati rokoknya,  dan selanjutnya akan kehilangan kenikmatan menggunakan kendaraan pribadi selama setahun.

Jadi, 3 kunci inilah yang harus kita buang jauh-jauh, dan menggantinya menjadi kunci sukses. Mudah Menyerah, Tidak Fokus, serta Kurang Komitmen dan Kemauan agar kesuksesan mau mendekati dan memeluk kita.

Langganan dan Download Ebook tentang Motivasi dan Human Capital-- GRATIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *