Endorphin: Alasan Kegilaan pada AADC2 (dan Film-film Sequel Lainnya)

Sumber Foto: http://lifestyle.bisnis.com

Sumber Foto: http://lifestyle.bisnis.com

Banyak sekali orang-orang yang tergila-gila dengan kembalinya Rangga dan Cinta dalam sequel Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2). Ini film yang luar biasa. Sequelnya dirilis 14 tahun kemudian. Dan tetap menimbulkan euforia.

Kegilaan itu sudah dirintis sejak munculnya minidrama AADC yang ternyata iklan layanan pesan singkat. Ketika AADC2 mulai rilis, orang-orang banyak yang membuka-buka arsip film AADC (1). Di sisi lain, tetap ada orang-orang semacam Nukman Luthfie yang dulu tidak menonton AADC, dan sekarang pun tetap tidak tertarik. Meskipun orang-orang di sekitarnya tergila-gila.

Apa yang sebenarnya terjadi?

AADC itu fenomenal. 14 tahun yang lalu ia menjadi film pertama yang ditonton lebih dari 2 juta orang. Film ini meninggalkan kesan mendalam bagi para penontonnya, karena efek ending yang nggantung. Dan orang-orang itu, kini menjadi pasar potensial untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Setidaknya 2 juta calon penonton sudah di tangan. Sebagian besar dari mereka adalah penonton remaja ataupun pasangan muda. 14 tahun berlalu, orang-orang itu sekarang sudah beranak. Kalau pasangan muda, anaknya sudah beranjak ABG. Jadilah mereka pasar potensial tambahan bagi AADC2.

Dari sisi umur, Cinta dan Rangga adalah kelahiran sekitar tahun 1985-an. Mereka adalah barisan awal generasi Y yang sekarang ini sudah mulai berkiprah sebagai penggerak ekonomi. Maka, meraih pasar mereka tidaklah sulit, karena apa yang disasar oleh film ini pastilah tidak lepas dari karakteristik Gen-Y, yaitu orang-orang yang terbuka pada perubahan dan sangat melek teknologi. Terbukti dari minifilmnya saja diklik oleh jutaan orang, dan menjadi viral di dunia maya. Padahal itu iklan.

Sedangkan pasar kedua adalah anak-anak ABG yang memang sedang penasaran-penasarannya mendapatkan pengalaman baru di bidang hubungan dengan lawan jenis. Mereka mudah terprovokasi pada kerumunan (crowd). Hebohnya film ini menarik minat mereka untuk mencari tahu seperti apa film AADC itu. Nilai-nilai romantisme universal dalam film pertama akan dengan mudah mengikat emosi para ABG itu untuk selanjutnya menjadi pasar potensial bagi AADC2.

ABG ini berada pada fase mencari identitas. Film adalah cara yang paling gampang untuk dicontoh. Bandura menyatakan bahwa manusia belajar menggunakan cara mengamati dan mencontoh. Dengan teori belajar dari Bandura itu, maka kita bisa paham bagaimana remaja memperhatikan segala peristiwa yang terjadi di sekitarnya dan segala hal yang orang-orang lakukan. Melalui pengamatan itulah, remaja menjadi tahu cara memperlakukan orang lain, dan kemudian akan mencontohnya dan menerapkan di kehidupan nyatanya.

Kisah dalam AADC itu positif dan inspiratif. Misalnya ibu muda bernama Annisa ini.  ia terinspirasi untuk membuat kelompok majalah dinding di sekolahnya. Ya itu gara-gara Dian Sastro adalah aktivis Mading di sekolahnya.

Selain Mading, banyak hal yang menjadi tren gara-gara AADC ini. Bahkan tabloid Bintang sempat-sempatnya menulis gaya yang menjadi tren tersebut untuk menyambut akan dimulainya syuting AADC2.

Orang-orang semacam Nukman Luthfie tidak terpengaruh dengan kehebohan film tersebut karena tidak sempat merasakan endorfin yang keluar ketika menyaksikan film tersebut. Beliau sudah melewati masa remaja atau pasangan muda, ketika AADC1 tersebut dirilis. Agak aneh saja kalau saat itu melihat om-om berusia sekitar 40 tahunan ikut mengantre nonton AADC1, sebuah film yang sangat remaja. Maka tak heran ketika AADC2 dirilis, ia tidak tertarik mengikuti kehebohannya, tidak ada pengalaman tertentu yang terkait dengannya.

Namun bagi penontonnya, karena film ini sukses besar menyentuh emosinya, maka mereka akan menunggu-nunggu lanjutannya karena terbukti dalam film yang pertama, hormon endorfinnya mengalir deras.

Ya, dalam psikologi dan medis, dikenal istilah endorphin. Itu adalah zat yang dikeluarkan oleh otak yang menyebabkan merasakan rileks dan nyaman.

Endorphin berasal dari kata kata endogenous dan morphine. Ini adalah unsur dari protein yang diproduksi oleh sistem syaraf manusia dan sering disebut morfin yang keluar dari kelenjar hipofisis dan hipotalamus yang berada di dasar tulang tengkorak. Benar, ini morfin, dan keluar secara alami dari tubuh kita. Jadi, buat apa mencari morfin sintetis dari luar badan kita, jika zat yang menyenangkan itu bisa kita produksi sendiri?

Zat itu keluar jika dirangsang oleh pengalaman menyenangkan atau tekanan pada emosional. Film AADC, pada dasarnya adalah film yang menyenangkan dan penuh emosi, dan itu merangsang keluarnya endorphin bagi penontonnya. Dalam literatur, endorfin bisa dipompa melalui beberapa cara diantaranya hal-hal terkait seks (bahkan sekedar membayangkan atau melihat proses menuju hal tersebut pun bisa merilis endorfin), olah raga, tertawa, makan cabe, melihat yang cantik-cantik, atau menangis.

Dari sisi psikologi belajar, ada teori psikologi lain yang lebih jadul namun terkenal adalah Law of Effect. Hukum ini dikemukakan Edward Lee Thorndike yang menggunakan binatang untuk menguji teorinya tersebut yang diteruskan ke manusia. Pakar psikologi menyimpulkan bahwa manusia cenderung melakukan hal-hal yang memiliki kosekuensi menyenangkan dan menghindar dari melakukan hal-hal yang memiliki konsekuensi tidak menyenangkan. Thorndike menyatakan bahwa perilaku law of effect memiliki dua bagian. Pertama, menyatakan bahwa respon-respon terhadap stimuli yang langsung diikuti rasa puas cenderung “dilekatkan terhadap diri”; sementara bagian kedua menyatakan stimuli yang langsung diikuti rasa kecewa “cenderung dilekatkan dari luar”. Sehingga ketika orang mendapatkan pengalaman menyenangkan dari suatu peristiwa, ia akan berusaha mengulang hal serupa.

Maka, bagi orang-orang yang merasakan kenikmatan ketika menonton AADC1 seperti Mbak Annisa, hampir dipastikan akan menonton sequelnya. Namun bagi orang-orang seperti pak Nukman, sebaiknya memang mencari endorfin dari tempat lain saja. Menonton film sequel akan terasa hambar jika belum merasakan kenikmatan di film pertama.

Jadi, 2 juta itu mudah, 3 juta masuk akal, tapi melewati Laskar Pelangi? Kayaknya belum…

Langganan dan Download Ebook tentang Motivasi dan Human Capital-- GRATIS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *