Psychological Capital: Mengapa Cashless Society Susah Diwujudkan?

kredit foto: CNN.com

kredit foto: CNN.com

Bank Indonesia mendorong terwujudnya cashless society sejak 2014. Namun hasilnya hingga saat ini masih jauh dari memuaskan. Jangankan di daerah. Di Jakarta saja, orang masih lebih memilih antre di gerbang tol tunai, dari pada masuk ke gerbang tol otomatis yang antreannya biasanya jauh lebih pendek. Padahal gerbang tol otomatis ini sudah diperbanyak, dan bank yang berpartisipasi pun juga semakin bervariasi. Apa yang terjadi?

Pengelola jalan tol hanya memperhatikan pemenuhan infrastruktur, tanpa melihat bahwa yang terjadi saat ini adalah perubahan budaya. Artinya, perlu ada intervensi dari sisi manusia agar program perubahan budaya dari dominasi penggunaan uang tunai menjadi kebiasaan bertransaksi nontunai.

Dalam manajemen perubahan, masyarakat bisa terkena resistance to change atau keengganan untuk berubah. Ada beberapa sebab mengapa orang tidak mau berubah yaitu memang tidak suka perubahan, ketidaknyamanan dengan adanya ketidakpastian, adanya efek negatif yang diterima, adanya keterikatan dengan budaya lama, atau kurangnya dorongan untuk berubah. Karena itu perlu adanya dorongan yang lebih besar dari situasi saat ini agar mereka mau berubah, baik secara sukarela, ataupun paksarela.

Ada sebuah konstruk psikologi yang disebut sebagai psychological capital (modal psikologis) yang sudah terbukti secara empiris bisa dimanfaatkan untuk mendorong perubahan. Modal psikologis yang diperkenalkan oleh F. Luthan ini terdiri dari Kepercayaan diri, Keyakinan positif, harapan, dan Ketahanan.

  1. Kepercayaan diri (self-efficacy): kepercayaan diri seseorang mengenai kemampuannya untuk menggerakkan motivasi, sumber daya pengetahuan, dan merangkaikan tindakan yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tertentu secara spesifik. Seseorang dengan kepercayaan diri tinggi akan cenderung menantang dirinya untuk menciptakan target-target yang lebih tinggi ataupun memilih tugas yang sulit yang memiliki pengaruh positif terhadap organisasinya.
  2. Keyakinan positif (optimism): Martin Seligman mendefinisikan keyakinan positif ini sebagai gaya yang melekat dengan atribut positif pada seseorang, permanen, serta menyerap penyebab dan interpretasi negatif dari eksternal, yang temporer dan bergantung pada situasi tertentu. Dengan definisi tersebut, Luthan menyebut bahwa keyakinan positif akan memberikan kontribusi pada kejadian-kejadian positif di kehidupannya di masa datang dan mampu dengan baik mengontrol situasi yang melintas di depannya;
  3. Harapan (hope): Rick Snyder mendefinisikan harapan sebagai kondisi termotivasi positif yang diturunkan dari dua aspek utama yaitu (a) agency (energi yang didorong adanya tujuan), dan (b) pathway (rencana untuk meraih tujuan). Luthan dkk (2007) menjelaskan bahwa dua aspek tadi menyebabkan manusia bisa menghasilkan jalur-jalur alternatif pada tujuan yang telah ditetapkan jika rencana utamanya mengalami kebuntuan;
  4. Ketahanan (resiliency): Masten & Reed dalam Luthan dkk (1997) mengartikan ketahanan sebagai satu jenis fenomena yang dicirikan dengan pola adaptasi positif ketika mengalami kesulitan atau risiko besar. Luthan dalam Luthan dkk (1997) mendefinisikan ketahanan sebagai kemampuan untuk melambung atau bangkit kembali dari kesulitan, konflik, kegagalan, ataupun kejadian-kejadian positif, perkembangan dan meningkatnya tanggung jawab.

Bagaimana memanfaatkan modal psikologis ini?

Agar modal ini bisa tumbuh, Pemerintah perlu mengedukasi dan mengkampanyekan citra cashless society dengan masyarakat yang memiliki nilai tinggi. Siapa yang bergabung di dalamnya identik dengan masyarakat terpelajar, dan menjadi pendorong bagi kemajuan negara. Jadi, pengguna gerbang tol otomatis akan dicitrakan sebagai masyarakat terpelajar.

Harapan akan tumbuh jika lingkungan sekitarnya memberikan dukungan atas harapan tersebut. Kemudahan, kenyamanan, dan rasa aman merupakan pupuk untuk menumbuhkan harapan. Rasa aman bertransaksi perlu ditingkatkan memberikan fleksibilitas transaksi menggunakan kartu apapun. Akan sangat merepotkan jika merchant hanya bisa menerima kartu-kartu tertentu saja, yang akibatnya akan membuat konsumen harus menenteng berbagai jenis kartu di dompetnya. Setiap kartu ada biaya pemeliharaannya ataupun saldo yang mengendap. akibatnya keengganan bisa muncul karena banyak dana konsumen yang mengendap di dalam macam-macam kartu di dompetnya.

Akan beda halnya jika kartu tunai yang ada di dompet hanya 1 namun bisa dipakai di tempat manapun, dan isi ulangnya bisa di mana saja, tidak harus repot-repot di ATM yang sama merk bank-nya.

Tanpa adanya kemudahan transaksi ataupun isi ulang, jalan menuju cashless society ini akan tambah terjal, karena lingkungan yang ada tidak memberikan pupuk terhadap tumbuhnya harapan di masyarakat, bahwa seharusnya gerbang tol otomatis akan membawa kemudahan, tidak sekedar menambah kerepotan yang lain.

Langganan dan Download Ebook tentang Motivasi dan Human Capital-- GRATIS